VERNAKULARISASI WAHYU DI NUSANTARA: ANALISIS FILOGIS DAN CORAK LOKAL PADA MANUSKRIP TERJEMAHAN AL-QUR’AN PEGON ABAD KE-19
DOI:
https://doi.org/10.65802/jalalain.v2i1.127Keywords:
Filologi, Manuskrip Pegon, Vernakularisasi, Al-Qur'anAbstract
Proses transmisi Al-Qur’an di Nusantara tidak hanya terjadi melalui hafalan dan bacaan, tetapi juga melalui upaya penerjemahan ke dalam bahasa lokal menggunakan aksara Pegon. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis proses vernakularisasi wahyu melalui pendekatan filologis terhadap manuskrip terjemahan Al-Qur’an Pegon dari abad ke-19. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif-filologis yang mencakup deskripsi kodikologis dan analisis tekstual, penelitian ini mengungkap bagaimana teks suci diadaptasi ke dalam kosmologi Jawa tanpa menghilangkan esensi teologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Manuskrip abad ke-19 menampilkan pola terjemahan antarlini (interlinear) yang dikenal sebagai makna jenggotan, yang berfungsi sebagai alat pedagogis di pesantren; (2) Terdapat penggunaan istilah-istilah lokal (vernakular) untuk menjelaskan konsep metafisika yang kompleks, seperti penggunaan kata Pengeran untuk Rabb; (3) Karakteristik fisik manuskrip, termasuk iluminasi dan pemilihan kertas, mencerminkan perpaduan antara tradisi Islam global dan estetika lokal Nusantara. Artikel ini menyimpulkan bahwa manuskrip Pegon merupakan bukti nyata pribumisasi Islam yang memungkinkan Al-Qur’an dipahami secara mendalam oleh masyarakat lokal melalui bahasa ibu mereka.
References
Aidinal Ma’arif, S. (2025). KALIGRAFI ISLAM SEBAGAI ALAT TERAPI ART THERAPY BAGI PASIEN GANGGUAN DEPRESI. NIHAYAH: Journal of Islamic Studies, 1(2), 301–315. https://doi.org/10.65802/nihayah.v1i2.24
Azra, A. (2004). The origins of Islamic reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulama' in the seventeenth and eighteenth centuries. University of Hawaii Press.
Behrend, T. E. (2005). The library of the Surakarta Kraton and the manuscripts of the Kadipaten. Indonesia and the Malay World, 33(96), 117–139.
Chambert-Loir, H. (2010). History of Arabic to Indonesian translation. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).
Fathurahman, O. (2015). Filologi Indonesia: Teori dan metode. Prenadamedia Group.
Fathurahman, O. (2017). Female Sufi among the early reformists: A study of manuscript of Syathariyah Silsilah in West Sumatra. Jakarta: PPIM UIN Jakarta.
Feener, R. M. (2007). Muslim legal thought in modern Indonesia. Cambridge University Press.
Gallop, A. T. (2010). The art of the Qur'an in Java. Suhuf: Jurnal Pengkajian Al-Qur’an dan Budaya, 3(2), 213–256.
Gade, A. M. (2004). Perfection makes practice: Learning, emotion, and the recited Qur'ān in Indonesia. University of Chicago Press.
Johns, A. H. (2009). The Qur'an in the Malay world. Dalam J. D. McAuliffe (Ed.), The Encyclopaedia of the Qur'ān (hlm. 1-15). Brill.
Laffan, M. (2011). The makings of Indonesian Islam: Orientalism and the narration of a Sufi past. Princeton University Press.
Pudjiastuti, T. (2006). Naskah dan kodikologi. Universitas Indonesia.
Ricci, R. (2011). Islam translated: Literature, conversion, and the Arabic cosmopolis of South and Southeast Asia. University of Chicago Press.
Riddell, P. G. (2017). Malay Court Religion, Culture and Language: Interpreting the Qur'an in 17th Century Aceh. Brill.
Rohmana, J. A. (2015). Al-Qur'an dan kemandirian aksara lokal: Menelusuri penulisan Al-Qur'an aksara Pegon di Nusantara. Jurnal Analisis, 15(1), 205–230.
Syam, N. (2005). Islam pesisir. LKiS Pelangi Aksara.
Steenbrink, K. (2006). Dutch colonialism and Indonesian Islam: Contacts and conflicts 1596-1950. Rodopi.
Zulkifli. (2014). The struggle of the Shi‘is in Indonesia. ANU Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Devi Liana Sari, Faradhila

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











